May 22, 2013
still, i want this #drive #onlygodforgives #ryangosling #nicolaswindingrefn

still, i want this #drive #onlygodforgives #ryangosling #nicolaswindingrefn

May 10, 2013
[review] Cinta Brontosaurus

Starring : Raditya Dika, Soleh Sholihun, Ronny P. Tjandra

Screenplay : Raditya Dika

Director : Fajar Nugros

Cinta Brontosaurus adalah film kedua dari seorang blogger-menjadi-filmmaker-menjadi-stand-up-commedian-menjadi-seleb-twitter-yang-di-follow-jutaan-orang terkenal, Raditya Dika. Film pertamanya yang berjudul Kambing Jantan walaupun nggak cukup heboh tapi masuk ke dalam 33 Film Penting menurut Rumah Film jadi buat lo yang protes udah diem aja karena filmnya emang mungkin penting. Cinta Brontosaurus adalah film kedua Raditya Dika dan setelah menonton filmnya (sampe habis) gue akhirnya membayangkan apa yang terjadi ketika mereka meeting pre-pro.

Raditya Dika : Gue mau bikin film tentang Cinta Brontosaurus.

Produser : Ok. Best-seller. Film pertama lo nggak jelek-jelek amat.

Raditya Dika : Iya kan? Iya kan? Iya kan?

Produser : Dianggap penting pula sama Rumah Film.

Raditya Dika : *sambil ngecek jumlah follower* Iya. (jeda) Rumah Film apaan ya?

Produser : Anyway, lo mau kayak gimana ceritanya?

Raditya Dika : Ya pokoknya tentang seorang cowok yang harus punya pacar sekarang itu juga. 

Produser : Ok, kayak di buku lah ya. Lo mau elaborate nggak, kira-kira kenapa kalo dia sampe ngga punya pacar apakah dia bakalan gimana? Apakah kalo dia single dunia akan meledak, atau kalo misalnya dia single si Syahrini bakalan nyalonin jadi caleg, makanya dia nyegah itu terjadi dengan pacaran atau gimana?

Raditya Dika : *bete* Ya karena dia harus punya pacar. Pokoknya harus.

Produser : Oke. Kira-kira siapa yang mau nulis skripnya? Lo mau gue panggilin Aaron Sorkin? Sofia Coppola?

Raditya Dika : Nggak deh. Gue aja.

Produser : *menunggu alasan*

Raditya Dika : Karena gue penulis. Duh.

Produser : Oke, sip. Terus kira-kira siapa ceweknya? Kayak gimana karakternya?

Raditya Dika : Kan sekarang semua kena wabah K-Pop nih. Bikin aja ceweknya oriental. Yang unik juga kayak si karakter cowoknya. Pokoknya yang unik dan quirky.

Produser : Se-quirky apa? 

Raditya Dika : Ya pokoknya quirky. Kayak Zooey Deschanel gitu quirky-nya. Yang weird, tapi lo cinta sama dia.

Produser : Oke. Siap. *siapin pulpen lagi* Coba bayangin adegan pacaran mereka yang quirky.

Raditya Dika : Kayak nongkrong di atas atapnya SPBU.

Produser : Wah, iya. Quirky banget tuh. Michael Cera pasti kalo pacaran juga di genteng gitu. Iya-iya. Siap…

Raditya Dika : Dan karena emang belum ada yang bikin kan? Jadi revolusioner.

Produser : Bener banget!! Sumpah iya.

*masuklah Sutradara ke meeting mereka*

Sutradara : Sori gue telat. Tapi gue ada kabar gembira. Supaya filmnya kocak, gue udah ngajakin Pak Yadi Sugandi untuk main jadi talent kita. Buat peran perjaka tulen di film lo, Dik.

Raditya Dika : Siapa Yadi Sugandi?

*Sutradara sama Produser liat-liatan*

Produser : Terus-terus apalagi yang seru?

Raditya Dika : *masih sibuk sama jumlah followernya yang bertambah setiap 30 detik* Ya pokoknya ceritanya si karakter cowok yang hits ini jomblo trus ketemu cewek ini, seru-seruan, trus biasa, standar, ceweknya mulai nyebelin dan akhirnya mulai renggang sampe akhirnya di ending si cowok tersadar bahwa si cewek berharga sama dia.

Sutradara : Lo nggak takut penonton bakalan nganggep si karakter cowok itu pecundang karena dia mau settle sama cewek nyebelin cuman karena dia takut jomblo?

Raditya Dika : Nggaklah, yang main jadi karakter cowok yang didasarkan dari buku yang gue tulis dan merupakan semi-curhatan dari kisah nyata hidup gue kan gue sendiri. Jadi gue pasti bagus mainnya. Jadi gue pasti berhasil menarik perhatian penonton.

*Sutradara dan Produser manggut-manggut*

Produser : Trus apalagi?

Raditya Dika : Oh, ya. Karena gue peduli sama industri film Indonesia, gue mau bahas sesuatu yang penting. Gue mau ceritanya di dalam film ada subplot tentang karakter utamanya yang mau deal bikin film dari buku Cinta Brontosaurus dan sayangnya ketemu sama produser bangke yang akhirnya diganti-ganti sama dia ceritanya jadi horror-horor nggak jelas.

Sutradara : Tapi bukannya nggak relevan?

Raditya Dika : Maksud lo?

Sutradara : Sekarang kan udah hampir ngga ada film-film yang… 

*tiba-tiba mulut Sutradara dibekep sama Produser*

Produser : Ya udah, oke kalau begitu ya. Deal. Kita syuting siang ini juga.

Sutradara dan Raditya Dika mengangguk.

Mereka pun akhirnya syuting. Joke-joke-nya diambil dari sebuah buku populer akhir 90-an seperti salah satunya adalah naik sepeda cuman pake anduk doang. Kemudian mereka selesai dan merilis filmnya. Banyak penonton Blok M Square yang tertawa terbahak-bahak saat menonton filmnya. Kabarnya filmnya ditambah 25 layar. Mereka bertiga bahagia.

Gue pulang dari bioskop memutuskan untuk beli obat tidur tanpa sadar. Gue nggak tahu apakah ini ada hubungannya dengan film ini apa nggak.\

May 6, 2013
evildead:


Do you have your own take on the Evil Dead poster? Submit it on our Tumblr for a chance to be featured like this fan, amazing-zuckonit.   

evildead:

Do you have your own take on the Evil Dead poster? Submit it on our Tumblr for a chance to be featured like this fan, amazing-zuckonit.   

May 6, 2013

Breaking Bad trailer created by Joel Walden. Amazing stuff.

May 6, 2013

I’m proud to gave you this behind the scene of @donttalklove, created by the one and only @kakakinka

May 3, 2013
I really need to see this… like… right now. #TheBlingRing

I really need to see this… like… right now. #TheBlingRing

May 2, 2013
[review] 9 Summers 10 Autumns [the movie] —-> it’s so crowded out here

Starring : Ichsan Tarore, Dewi Irawan, Alex Komang, Shafil Hamdi Nawara, Agni Pratistha, Dira Sugandi
Written by Ifa Ifansyah, Fajar Nugros dan Iwan Setyawan
Directed by Ifa Isfansyah

*mungkin saja berspoiler*

9 Summers 10 Autumns adalah sebuah film adaptasi dari sebuah novel bestseller yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Ya, memang agak-agak mirip dengan Laskar Pelangi atau film-film sejenis yang mengekor Laskar Pelangi. Gue? Skeptis? Agak. Tapi nama Ifa Isfansyah tetap membuat gue yakin bahwa filmnya bagus. Walaupun gue akhirnya harus mengasihani diri sendiri.

Iwan kecil (Shafil Hamdi Nawara) tinggal di sebuah rumah di daerah Batu. Dia tinggal kerumpyukan bersama 4 saudara perempuan serta kedua orang tuanya. Ibunya (Dewi Irawan) hanya berharap bahwa kehidupan anak-anaknya lebih sejahtera ketimbang dirinya. Dia membiarkan apapun yang membuat anak-anaknya bahagia. Termasuk membiarkan Iwan main-main di dapur.

Kalau ibu Iwan adalah orang yang simplistic, nggak dengan bokap Iwan yang lebih primitif. Antara merasa harus memberikan bekal untuk anaknya kelak ketika dia dewasa dan juga keharusannya untuk menjadikan anak lelaki satu-satunya menjadi lelaki sejati; bokap Iwan selalu memaksa Iwan untuk bertindak seperti cowok. Melarangnya untuk bermain di dapur, memaksanya untuk mengikutinya kerja sebagai sopir, menyuruhnya bermain dengan anak-anak cowok lainnya.

Iwan kecil menjadi kikuk, awkward dan dependent dengan sang nyokap. Ini termasuk ketika hari pertama Iwan harus ke sekolah dan memaksa ibunya untuk tetap tinggal. Dan malamnya sang ayah langsung kecewa berat dan mengatakan bahwa harusnya Iwan yang jagain ibunya – karena dia lelaki – bukan sebaliknya.

Iwan (Ihsan Tarore) ternyata menyimpan harta karun – otaknya – dan dia semakin bersinar. Iwan bosan hidup miskin, dia ingin sukses. Sampai akhirnya tiba waktunya bagi Iwan untuk meninggalkan rumah dan menerbangkan sayapnya. Tapi apakah kebahagiaan sejati itu hanyalah materi?

Sinopsis gue lebih simple ketimbang filmnya. 9 Summers 10 Autumns berbakat menjadi film yang bagus – terserah mau jadi film aja – asal pembuatnya tau mau dibawa kemana filmnya. Masalah utama 9 Summers 10 Autumns adalah film ini nggak tau mau ngomongin apa. Too many stuff going on at the same time and its not a good thing.

Dari kacamata gue ada dua hal yang film ini coba untuk omongin. Yang pertama adalah percobaan untuk menjadi sebuah film yang mengupas kisah sukses tentang seorang bocah miskin yang akhirnya menaklukkan dunia. Upaya itu nggak gagal-gagal banget sih, tapi jauh dari kata berhasil. Karakter Iwan nggak pernah terlihat super jenius atau super wowza – at least kayak Lintang di Laskar Pelangi. Kita nggak pernah ngeliat dia bener-bener melakukan penelitian tapi tiba-tiba aja dia bilang ke tukang jualan lalapan langganannya – yang diperankan dengan keren sama Ria Irawan – tentang penelitiannya. Sama dengan kerjaannya yang mendadak membuatnya mendapatkan tawaran kerjaan di New York. Kita nggak pernah ngeliat gimana kerja Iwan – kita hanya ngeliat dia lebih rajin aja dari temen-temennya – tapi tau-tau dia udah ditelpon aja sama orang New York.

Yang kedua adalah upaya film ini untuk menunjukkan bahwa Iwan nggak bisa bahagia – walaupun udah di New York, punya karir super wowza dan semacamnya – kalo keluarganya nggak bisa menerimanya sebagai gay. Gay? Ya. Ini adalah pembacaan gue tentang karakter Iwan. Pembuatnya nggak menjelaskan ini dengan verbal, tapi tanda-tandanya so obvious.

Pertama adalah kengototan karakter Alex Komang – yang bermain baik karena bikin gue annoyed sama dia – yang demand kalo Iwan harus kayak cowok. Ini nggak bakalan jadi penting kalo penggunaan kata “lo itu anak cowok” tidak digunakan secara excessive. Bahkan ada scene dimana si bapak memaksa si iwan kecil untuk ngasihin alat-alat bengkel supaya anaknya tau bagaimana cara jadi cowok “beneran”.

Kedua adalah gerak-gerik si Iwan sendiri. Perhatikan kelingkingnya yang “ngetril” ketika nulis di papan tulis. Perhatikan cara jalan dia ketika dia udah ada di New York. Ngomong-ngomong soal New York, ke-melambai-an si Iwan semakin menjadi-jadi ketika dia ada di New York. Berbeda ketika ada di Jakarta atau di Malang, karakter Iwan kayaknya masih menahan diri. Begitu ada di New York – gue mengira, karena dia jauh dari keluarganya – dia mulai bebas menunjukkan aslinya. Dan jalannya udah kayak kucing jalan (cat walk, got it?).

Ketiga adalah fashion Iwan. Lagi-lagi di New York. Nggak mungkin banget dia straight. Ini bukan hanya gue yang bilang loh ya. Tata dan Kristin yang ada di samping gue juga bilang – Kristin bahkan sampe tereak, “Itu kan tas gue,” di salah satu scene. Dan nggak ada cowok straight yang beli kembang buat DIRINYA sendiri sebagai penghias ruangan.

Jadi, dalam scene di New York – sebuah settingan yang gue asumsikan adalah momen dimana akhirnya karakter Iwan come out – Iwan tidak pernah terlihat benar-benar bahagia. Dia kesepian – terlihat dari mise-en-scene-nya yang sepi, sangat berbeda dengan New York di dunia nyata (bukannya gue pernah ke New York, tapi dia kan kota metropolitan bukan?) – dan berkomunikasi dengan Iwan kecil. Iwan kecil berkata, “Ini yang lo pengenin?” Iwan ragu-ragu menjawab.

Gue mengartikannya sebagai bahwa setelah akhirnya dia ada di New York dia akhirnya coming out dan berharap akan bahagia. Toh dia sudah jauh dari miskin – hal yang paling dia hindari karena berkali-kali dia tereak, “GUE BOSEN MISKIN, WOY!” – dan bisa melakukan apa yang dia mau. Tapi dia toh tidak bahagia. Satu hal kurang : dia pengen pengakuan keluarganya.

Ini bukan asumsi sembarangan loh ya. Terbukti ketika di akhir film ketika si Iwan memutuskan untuk balik ke kampung halamannya si Bapaknya bilang dalam bahasa Jawa yang arti bahasa Indonesianya adalah, “Anak lo cowok (ngomong ke istrinya).”

“Anakmu lanang” diartikan dalam subtitlenya adalah “anak lelakimu sudah pulang” dan itu menurut gue itu disengaja karena pembuatnya pengen menyembunyikan usaha “alus” mereka tentang bagian “gay” itu di film ini.

Dan kalau memang 9 Summers 10 Autumns pengen menjadi film yang kedua itu, kenapa nggak sekalian aja. It would make a really good movie. Sayang, film ini terlalu fokus dengan banyak ide sehingga jadinya kayak rantang kepenuhan soto. Kuah dimana-mana, warnanya hijau, ngotorin rantang putihnya, jadinya nggak menarik.

Satu hal yang pasti, si Ihsan Tarore mainnya bagus banget. Aksen jawanya gokil – dan gue nggak tau apakah dia beneran ngondek atau nggak, tapi dia perfect.

1:31pm  |   URL: http://tmblr.co/ZOAP1wk1r-NX
Filed under: review 
April 29, 2013
[journal] is it just me or your gilrfriend/boyfriend can be your ultimate enemy?

Bullshit banget kalo gue nggak pernah kepikiran untuk punya pacar. Apalagi di season 6 ini dimana hampir semua classmates gue punya pasangan. Angkasa – Ririn, Iqbal – Dika, Mike – Cube, Ciko – Arja, Gamma – Dan Mbak Itu, Gio – Candy. Cynthia emang nggak in a relationship tapi ada cowok yang nguber dia dan dia kayaknya menikmati banget itu. Henna juga nggak in a relationship, tapi ketika dia bergoyang di club, dia nggak pernah ngeluarin duit buat bayar minuman. Dan George? Hmmm… Udahlah ya, gue kasih foto berikut ini supaya lo bisa tahu apa yang bisa dia gunakan dengan aset ini. Plus, temen-temennya adalah orang-orang jetset semacam Mahesa Utara dan Angger Dimas.


Tentu saja kehadiran pacar memberikan energi positif dan negatif. Ada yang mendadak rajin kuliah. Ada yang mendadak nawarin les bahasa inggris gratis (you know who). Ada yang mendadak mau untuk nonton film-film ribet yang mesti ditonton untuk tugas kuliah.

Tapi ada juga yang semakin terpuruk. Ada yang semakin lupa sama kuliah (you know who, dan nggak gue sebutkan disini). Dan semakin pusing karena dengan adanya pacar berarti semakin banyak drama.

Gue sebenernya menikmati sebagai professional third wheel yang sebagian dari tugasnya adalah mendengarkan curhatan temen-temen gue tentang relationship mereka. Beberapa menyenangkan dan lucu (dan agak delusional) seperti, “Perhatiin deh. Mike kayak panda.”

Beberapa membanggakan seperti, “Gara-gara Arja gue jadi kenal Jim Jarmusch.”

Dan akhirnya akan tiba di momen dimana sang pacar akan bilang, “Sampe kapan kamu nggak bakalan merhatiin aku karena kamu sibuk main sama temen-temen kamu dan syuting melulu?”

Oh-oh. I smell fire in the house, yo! #terBreakingBad

Sebagai seorang film student, terutama di kampus gue yang satu angkatannya cuman bisa diitung dengan dua tangan saja, bahwa berkumpul bersama teman-teman satu angkatan yang tahu sama tahu apa karakter masing-masing adalah hal yang sangat penting. Ini menjaga lo agar tetap waras, merasa menjadi manusia, dan nggak dianggap kayak weirdo oleh manusia-manusia lain.

Kedua, ya karena lo tau pacar lo film student, harusnya lo udah tau dong kalo film student kerjaannya bikin film. Kedengerannya emang lebih fun dan menarik dan less intimidating ketimbang paper, but trust me, ini lebih menyiksa lahir dan batin. Lo akan merasakan momen-momen dimana lo kurang tidur – kayak yang gue alami sekarang, dari Jumat hanya tidur maksimal 3 jam – dan kurang makan dan kebanyakan ngerokok. Lo akan merasakan ketinggalan jaman karena harus peduli sama jadwal syuting dan nggak sempet nonton iron man 3. Lo harus fokus dengan film lo mulai dari konsep dan sampe kelar. Begitu film selesai pun jangan kira kita bisa leha-leha. Masih ada acara submit-submit film festival (demi masa depan) yang harus kita lakukan dan kebanyakan dari festival-festival itu permintaannya aneh-aneh.

Jadi ya, sebagai seorang film student, gue amat sangat membela temen-temen gue.

Tapi sebagai cowok single yang nggak punya experience apapun dalam bidang ini, gue perlu bertanya : seberapa banyak waktu lo yang harus lo ambil supaya nggak mengganggu kehidupan ber-romansa lo dengan pacar?

Kalo misalnya pacar udah mulai annoying (walopun niatannya baek) dengan karir kita (atau calon karir kita), apakah kita bisa anggap sebagai threat?


Dan apakah sah-sah aja kalau kita putusin?

Ini adalah pertanyaan yang sampe sekarang belum bisa gue jawab.

April 26, 2013
[journal] is it just me or having an enemy is actually good for you?

Ini cuman gue atau emang pada kenyataannya punya orang yang benci sama lo akan membuat lo menjadi manusia yang lebih baik?

Kita idup di sebuah dunia yang semuanya ada kontradiksinya. Ada panas ada dingin. Ada ngaceng ada impoten. Ada cakep ada jelek. Ada fuckable ada yang nggak. Ada yang kinjong ada yang patah hati. Ada yang tinggi ada yang pendek. Semuanya serba kontradiksi.

Di sebuah pagi yang cerah – dan gue dalam keadaan hangover – seorang kenalan mengatakan kepada gue bahwa kalau dia bertemu Tuhan dia akan meminta Tuhan untuk membinasakan yang namanya musuh. Dia ingin bahwa kita semua berteman. Gue nggak sirik atau gimana, tapi membayangkan dunia yang begitu indah tanpa perang gue merasakan kebahagiaan.

Tapi lima detik kemudian otak gue berkata, “Betapa membosankannya.”

Semua hal yang berlawanan – menurut gue – harus ada karena kalo yang satu nggak ada, lo nggak bakalan bisa men-define yang lain. Kalo misalnya panas nggak ada, bagaimana lo menjelaskan sesuatu yang diluar dingin? Kalo jatuh cinta nggak ada, bagaimana lo menjelaskan rasa hampa? Kalo orang jelek nggak ada, bukannya bête kalo lo liat seluruh dunia isinya kayak Omar-Siapalah-Namanya-Itu-Yang-Di-Banned-Sama-Pemerintah-Arab atau Megan Fox?

Jadi, kalau misalnya doa kenalan gue itu dikabulkan dan Tuhan akan membinasakan semua musuh, apakah dunia akan menjadi lebih baik?

Hmmm… yang jelas hidup pasti membosankan. Nggak ada intrik-intrikannya. Nggak ada gregetnya.

Musuh – atau bisa aja orang yang lagi bete sama gue – adalah salah satu bahan bakar paling efektif untuk melakukan goal lo paling terliar. Musuh bisa menjadi motivasi lo untuk jadi apapun yang lo mau – pinter, tajir, kurus, gemuk, tinggi, lebih berotot, punya cewek banyak, bisa ngentotin 6 orang dalam sehari, dapet gelar PHD di bidang neurologi.

Dan punya musuh nandain bahwa lo bukan manusia sempurna yang bakalan dicintai semua orang – yang menunjukkan bahwa emang orang-orang diciptakan berbeda-beda dengan selera yang random – dan itu menurut gue perfect. Atau cuman gue aja yang mikir begini?

April 25, 2013

meet the cast of #TheBackseat @erostjokro @trontontruck @rasthanp @priyahilmawan and the beautiful @karinasalim

Liked posts on Tumblr: More liked posts »