May 12, 2012
Starring : Donny Damara, Raihaanun, Asrul Dahlan, Yayu Unru, Ari SyarifScreenplay : Teddy SoeriaatmadjaDirector : Teddy SoeriaatmadjaPemandangan itu sungguh pemandangan yang luar biasa. Dua orang manusia berjalan di trotoar Jakarta. Masih banyak kendaraan yang lalu lalang tapi tidak sebanyak ketika matahari menampakkan wujudnya. Orang-orang sudah bermimpi di rumah masing-masing. Namun dua manusia itu masih berjalan dan berbicara. Dan penampilan mereka yang mencolok membuat semua orang yang berada dalam teater berkomat-kamit, “Amazing, Man. This shit is amazing.”Yang satu adalah lelaki gempal memakai gaun kerlap-kerlip paling murahan yang bisa lo temukan berwarna merah menyala, memakai wig berwarna hitam dan merokok rokok filter. Yang satunya lagi adalah perempuan muda menawan yang umurnya jauh lebih muda separuh dari umur sang banci. Memakai busana tertutup dan berjilbab. Namun semua atribut yang serba kontras ini ternyata tidak menghalangi mereka untuk berkomunikasi.Mereka adalah Cahaya dan Ipuy. Cahaya yang jauh-jauh datang dari kampung sebenarnya sedang mencari ayahnya. Saiful namanya. Ada sebuah misi rahasia kenapa dia ingin bertemu dengan ayahnya. Sebuah keputusan harus dia ambil dan dia membutuhkan sosok ayahnya untuk mengambil keputusan ini.Alangkah kagetnya Cahaya ketika dia menyadari bahwa pria yang dicarinya, yang hilang selama belasan tahun dari memorinya adalah seorang banci yang menjajakan tubuhnya setiap malam. Di tangan Deddy Mizwar ini bisa menjadi topik seksi untuk berceramah panjang. Di tangan Teddy Soeriaatmadja, keanehan ini menjadi sebuah kendaraan menarik untk menceritakan tentang hubungan antar manusia, antar keluarga dan kota Jakarta itu sendiri.Oh tentu saja, dibalik premis yang super menarik itu Lovely Man menciptakan plot-holes yang lumayan parah. Terutama setelah adegan pemerkosaan, semua adegan terasa seperti roller coaster yang meluncur ke jurang. Apalagi adegan ending yang menurut gue sangat nggak banget. Do people still talk like that these days? Especially in the middle of train station? Walopun nggak separah film-filmnya Deddy Mizwar, tetep aja adegan ceramah sholat jumat menurut gue mengganggu aura filmnya dan membuat gue mempertanyakan karakter Ipuy.Tapi dibalik itu semua Lovely Man adalah sebuah film drama yang menarik, menghibur dan lumayan membekas di otak. Ini (seperti kata Tata) adalah versi lebih panjang dan lebih benar dari salah satu film pendek di Sanubari Jakarta yang berjudul “Malam Ini Aku Cantik” tanpa semua narasi yang terlalu sok-sokan puitis tapi malah jadi simply ridiculous. Dialognya keren dan secara keseluruhan plotnya sederhana tapi ngena. Semuanya berkat akting prima dari kedua pemeran utamanya. Donny Damara, seinget gue, pernah memainkan peran banci dalam sebuah FTV berjudul “Panggil Aku Puspa”. Berbeda dengan perannya di FTV tersebut, Ipuy adalah sosok banci yang sangat gahar. Gerakan tubuh Donny Damara dan bagaimana cara dia memerankan peran ini membuat sosok Ipuy terlihat lebih menawan. Raihaanun bisa jadi main di film ini karena unsur KKN. Dan karena filmnya super indie yang dikerjakan dengan semangat DIY – do it yourself – demi menekan bujet. Tapi Raihaanun nyatanya memang layak untuk bersanding dengan Donny Damara. Kalo pemeran Cahaya bukan orang seperti Raihaanun, aksi dan reaksi yang terjadi sepanjang film tidak akan terlihat senatural itu. Dan emang chemistry keduanya memang tak terbantahkan. Membuat momen-momen kecil seperti makan sate bersama teman-teman banci Ipuy (salah satu alasan kenapa lo mesti nonton film ini, adegannya sangat rated R) menjadi momen paling hangat yang pernah gue liat.Yang juga menjadi hal yang patut dicatat adalah Lovely Man adalah film kesekian besutan sutradara yang mungkin pernah lo baca namanya entah dimana, Teddy Soeriaatmadja. Gue bukannya gimana-gimana tapi 4 film Teddy yang pernah gue tonton merupakan siksaan batin dan otak yang teramat dalam. Banyu Biru terlihat puitis tapi lo bisa merasakan aura pretensius dimana-mana. Ruang bikin capek. Badai Pasti Berlalu remake version merupakan hal yang seharusnya ngga perlu lo lakukan, ever. Dan Rumah Maida adalah salah satu bukti kenapa bikin film harus dilakukan dengan tulus bukan karena lo pengen pamer. Dan ternyata semua film itu membuat Teddy belajar untuk membuat film yang lebih benar, tidak neko-neko tapi ngena di hati. Voila! Lovely Man. Dan menurut gue itu adalah hal luar biasa yang bisa lo capai dari seorang filmmaker.Go see it karena film kayak ginian pasti bakalan kalah sama Nenek Gayung Kakek Cangkul Mbak-Mbak Macul. Filmnya memang nggak sempurna tapi Lovely Man terlalu sayang untuk dilewatkan.Keseluruhan : 8/10

Starring : Donny Damara, Raihaanun, Asrul Dahlan, Yayu Unru, Ari Syarif
Screenplay : Teddy Soeriaatmadja
Director : Teddy Soeriaatmadja

Pemandangan itu sungguh pemandangan yang luar biasa. Dua orang manusia berjalan di trotoar Jakarta. Masih banyak kendaraan yang lalu lalang tapi tidak sebanyak ketika matahari menampakkan wujudnya. Orang-orang sudah bermimpi di rumah masing-masing. Namun dua manusia itu masih berjalan dan berbicara. Dan penampilan mereka yang mencolok membuat semua orang yang berada dalam teater berkomat-kamit, “Amazing, Man. This shit is amazing.”

Yang satu adalah lelaki gempal memakai gaun kerlap-kerlip paling murahan yang bisa lo temukan berwarna merah menyala, memakai wig berwarna hitam dan merokok rokok filter. Yang satunya lagi adalah perempuan muda menawan yang umurnya jauh lebih muda separuh dari umur sang banci. Memakai busana tertutup dan berjilbab. Namun semua atribut yang serba kontras ini ternyata tidak menghalangi mereka untuk berkomunikasi.

Mereka adalah Cahaya dan Ipuy. Cahaya yang jauh-jauh datang dari kampung sebenarnya sedang mencari ayahnya. Saiful namanya. Ada sebuah misi rahasia kenapa dia ingin bertemu dengan ayahnya. Sebuah keputusan harus dia ambil dan dia membutuhkan sosok ayahnya untuk mengambil keputusan ini.

Alangkah kagetnya Cahaya ketika dia menyadari bahwa pria yang dicarinya, yang hilang selama belasan tahun dari memorinya adalah seorang banci yang menjajakan tubuhnya setiap malam. Di tangan Deddy Mizwar ini bisa menjadi topik seksi untuk berceramah panjang. Di tangan Teddy Soeriaatmadja, keanehan ini menjadi sebuah kendaraan menarik untk menceritakan tentang hubungan antar manusia, antar keluarga dan kota Jakarta itu sendiri.

Oh tentu saja, dibalik premis yang super menarik itu Lovely Man menciptakan plot-holes yang lumayan parah. Terutama setelah adegan pemerkosaan, semua adegan terasa seperti roller coaster yang meluncur ke jurang. Apalagi adegan ending yang menurut gue sangat nggak banget. Do people still talk like that these days? Especially in the middle of train station? Walopun nggak separah film-filmnya Deddy Mizwar, tetep aja adegan ceramah sholat jumat menurut gue mengganggu aura filmnya dan membuat gue mempertanyakan karakter Ipuy.

Tapi dibalik itu semua Lovely Man adalah sebuah film drama yang menarik, menghibur dan lumayan membekas di otak. Ini (seperti kata Tata) adalah versi lebih panjang dan lebih benar dari salah satu film pendek di Sanubari Jakarta yang berjudul “Malam Ini Aku Cantik” tanpa semua narasi yang terlalu sok-sokan puitis tapi malah jadi simply ridiculous.

Dialognya keren dan secara keseluruhan plotnya sederhana tapi ngena. Semuanya berkat akting prima dari kedua pemeran utamanya. Donny Damara, seinget gue, pernah memainkan peran banci dalam sebuah FTV berjudul “Panggil Aku Puspa”. Berbeda dengan perannya di FTV tersebut, Ipuy adalah sosok banci yang sangat gahar. Gerakan tubuh Donny Damara dan bagaimana cara dia memerankan peran ini membuat sosok Ipuy terlihat lebih menawan.

Raihaanun bisa jadi main di film ini karena unsur KKN. Dan karena filmnya super indie yang dikerjakan dengan semangat DIY – do it yourself – demi menekan bujet. Tapi Raihaanun nyatanya memang layak untuk bersanding dengan Donny Damara. Kalo pemeran Cahaya bukan orang seperti Raihaanun, aksi dan reaksi yang terjadi sepanjang film tidak akan terlihat senatural itu. Dan emang chemistry keduanya memang tak terbantahkan. Membuat momen-momen kecil seperti makan sate bersama teman-teman banci Ipuy (salah satu alasan kenapa lo mesti nonton film ini, adegannya sangat rated R) menjadi momen paling hangat yang pernah gue liat.

Yang juga menjadi hal yang patut dicatat adalah Lovely Man adalah film kesekian besutan sutradara yang mungkin pernah lo baca namanya entah dimana, Teddy Soeriaatmadja. Gue bukannya gimana-gimana tapi 4 film Teddy yang pernah gue tonton merupakan siksaan batin dan otak yang teramat dalam. Banyu Biru terlihat puitis tapi lo bisa merasakan aura pretensius dimana-mana. Ruang bikin capek. Badai Pasti Berlalu remake version merupakan hal yang seharusnya ngga perlu lo lakukan, ever. Dan Rumah Maida adalah salah satu bukti kenapa bikin film harus dilakukan dengan tulus bukan karena lo pengen pamer.

Dan ternyata semua film itu membuat Teddy belajar untuk membuat film yang lebih benar, tidak neko-neko tapi ngena di hati. Voila! Lovely Man. Dan menurut gue itu adalah hal luar biasa yang bisa lo capai dari seorang filmmaker.

Go see it karena film kayak ginian pasti bakalan kalah sama Nenek Gayung Kakek Cangkul Mbak-Mbak Macul. Filmnya memang nggak sempurna tapi Lovely Man terlalu sayang untuk dilewatkan.

Keseluruhan : 8/10

  1. nggacor posted this